Kamis, 30 Juni 2016
PADA AKHIRNYA
dulu sekali aku berpikir bahwa
mempunyai rasa yang tidak terbalaskan adalah hal yang paling sakit,
tapi ternyata tidak.
merasakan indah cinta di saat yang tidak tepat adalah hal yang paling sakit dari semua cerita.
saling merasa nyaman tapi malah terbatasi oleh keadaan,
saling mengisi setiap kekurangan tetapi tetap tidak bisa berpijak.
ingin terus dekat tapi dilarang oleh jarak.
kurasa memang dipertemukan untuk berpisah.
ketika dua hati merasakan hal yang sama
tapi berjuang pun tidak akan membawa cinta ini ke cerita yang seharusnya.
percuma! kita seperti menjalani hal yang kita sudah tau ujungnya.
dan pada akhirnya kita harus ikhlas untuk saling melepaskan
Senin, 13 Juni 2016
Hujan
Rintik perlahan berjatuhan
Di saat asap merelakan kelabunya terhapus oleh rintik hujan
Wangi udara mulai meracuni bersama debu pembuangan
Jalanan membasah pertanda dinginnya keadaan
Hujan tak terelakkan
Wiper ikut menyapu debar-debar dua orang di hadapan
Suara riuh di sekitar kederasan kian reda oleh genggaman tangan
Pelukan hangat dari hati dingin dua orang dengan kasih berkepastian semu
Namun tak sering meragu
Langit memecahkan kesunyian
Tidak ada asap debu yang akan terhapus hujan
Karena hujan terus ada dan akan melekat di jalan
Setiap usapan, genggaman, dan dekapan telah bertahun menggenang
Ujung jari mengusap kaca berembun demi terbentuk nama yang dirindukan
yang hanya tersisa sekarang...
Melalui hujan, langit memberikan kesempatan untuk mengenang
Rabu, 01 Juni 2016
Aku Mati
petir itu datang lagi...
di saat aku masih asyik mencoba bermain hujan,
dengan basah kuyup aku berlari kecil menghindari kejamnya petir menyambar.
aku terjatuh
dan mencoba bangun kembali meski petir demikian kejamnya melumpuhkanku...
aku menangis
tetapi tak ada yang tahu
kareta air mataku telah bercampur dengan air hujan
aku tertawa menengadah menantang langit sehingga mulutku menampung buliran air hujan yang manis
setelah itu aku mati...
di saat aku masih asyik mencoba bermain hujan,
dengan basah kuyup aku berlari kecil menghindari kejamnya petir menyambar.
aku terjatuh
dan mencoba bangun kembali meski petir demikian kejamnya melumpuhkanku...
aku menangis
tetapi tak ada yang tahu
kareta air mataku telah bercampur dengan air hujan
aku tertawa menengadah menantang langit sehingga mulutku menampung buliran air hujan yang manis
setelah itu aku mati...
Langganan:
Komentar (Atom)