Minggu, 31 Agustus 2014

-WAKTU-

Sore datang dan membiarkan udara menguning, kepedihan tatapan mata ini tak juga bergeming. Kayu-kayu, dengan gari s lingkaran tahunnya seakan menjawab pertanyaan yang tak sanggup kulemparkan. Berapa lama lagi penderaan hati ini. Sampai kapan aku mampu tersesat di hutan mencintaimu, hingga nanti kamu akhirnya harus meninggalkanku.

Semakin ku tak ingin melepasmu, menuju malam, semakin menyadarkan siapa diriku atasmu. Bintang-bintang memberi ijin pada keberadaan kita, namun hanya dalam seberapa jam, kita akan melapor pada matahari siang, menyerahkan segenap malam indah yang entah jika memang bukan milikku, seperti aku yang tak memilikimu.

Rasa bersalah selalu kalah dengan pertarungan lawan-lawannya. Rasa ingin memiliki, rasa desakan mencintai. Aku, pendaki yang berusaha mencari celah menyala api, namun keliru berjalan mengarah padamu yang sejuknya tak bisa disamai satu pun pohon besar di hutan ini.

Aku tersesat, namun berdiri di jalan yang tidak asing selama itu bersamamu.

Cinta,  jika saja kamu ada duanya..
Tak perlu kusita waktumu yang seharusnya dihabiskan bersamanya Menuju tanah, air mata rasa salah yang kali ini menang pun berlinang.

Di Perjalanan

kita masih bersama dalam lingkar kuning kehidupan
masih tetap bermain api di terik membakar
tetap menjaga kehormatan masing-masing

selalu mempertanyakan nasib yang entah kapan akan berpihaknya
meragukan pertolongan kuasa yang entah kapan datangnya

meredam amarah,
merengkuh mimpi,
mengabaikan dendam,
menuju jalan...

Teka Teki

perahu yang membawaku
belum kembali
entah mengapa
angin laut mendorongku ke pulau ini
aku tidak mengerti juga
dan terpaku di ujung dermaga
ombak yang selalu pulang dan pergi
seperti aku
mereka berdiri di pantai
menantikan barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka teki ini

Tangan

tangan...

mengetuk satu per satu pintu
menantikan wajah penuh senyumanmemutar gagangnya 
menyambut kedinginan dan mengalirkan kehangatan
merengkuh keputus asaan
melindungi bohlam harapan
tapi ternyata tak ada langkah mendekat
untuk membukanya

menggedor jendela kusam di sampingnya
menunggu tangan halus menguaknya
menerima kekusaman
mengusai kekacauan
menampik lentingan ceracau
memeluknya hingga tenang
namun tak ada tanda-tanda bunyi mencicit ia terbuka

tangan...

mengelus, meraba, merasa, mengusap, dan memegang
menunggu terbukanya pintu, terkuaknya jendela
menunggu kehangatan
menunggu kepastian