Senin, 18 Juli 2016

Langit Mati

Langit kota ini terasa mati
Tak tahu entah terlupa rasanya berbunga seperti indahnya penggambaran orang.
Mereka asyik duduk di bawah temaramnya cahaya yg dikirimkan langit..
Bersama kekasih halalnya yg telah Tuhan hadiahkan
Aku?
Menangisi rindu yg entah sampai kapan terbayarkan..
Meratapi hati yg penuh disesaki segala rasa ingin bersama tapi tak mungkin
Bersama semilirnya angin malam menyingkap penutup betis,
Sepiku bertemankan munajat padaNya
Perihnya memendam rasa, tiada yang tahu duka dibalut tawa
Halalkan perasaan ini
Izinkan ku merasa
Sampai mengerti, mengapa hawa ini tiada kuasa memberi tahu isi hati...

akhir tahun lalu

Ada yang beda hari ini
Kala sang surya ternyata menyerah
Tersuruk di balik kelamnya awan
Atau bahkan ia tengah bergulana?
Hingga tiada kuasa menahan tangis

Ada yang beda dengan hari ini
Ketika payung menajdi pilihan
Sebagai teman seperjalanan
Menggenggamnya bak harapan
Meski ada yang berbeda dengan diri
Ya...
Memang hari ini tiada lagi sama
Bak Sang Surya yang mulai lelah
Genggaman yang lemah seiring lumpuhnya motivasi
Seiring banyaknya ceracauan yang mematahi
Seiring surutnya percaya diri
Berdiri sendiri
Seperti setengah mati

Kamis, 30 Juni 2016

PADA AKHIRNYA


dulu sekali aku berpikir bahwa
mempunyai rasa yang tidak terbalaskan adalah hal yang paling sakit,
tapi ternyata tidak.
merasakan indah cinta di saat yang tidak tepat adalah hal yang paling sakit dari semua cerita.
saling merasa nyaman tapi malah terbatasi oleh keadaan,
saling mengisi setiap kekurangan tetapi tetap tidak bisa berpijak.
ingin terus dekat tapi dilarang oleh jarak.

kurasa memang dipertemukan untuk berpisah.
ketika dua hati merasakan hal yang sama
tapi berjuang pun tidak akan membawa cinta ini ke cerita yang seharusnya.
percuma! kita seperti menjalani hal yang kita sudah tau ujungnya.
dan pada akhirnya kita harus ikhlas untuk saling melepaskan

Senin, 13 Juni 2016

Hujan

Rintik perlahan berjatuhan

Di saat asap merelakan kelabunya terhapus oleh rintik hujan
Wangi udara mulai meracuni bersama debu pembuangan

Jalanan membasah pertanda dinginnya keadaan

Hujan tak terelakkan
Wiper ikut menyapu debar-debar dua orang di hadapan

Suara riuh di sekitar kederasan kian reda oleh genggaman tangan

Pelukan hangat dari hati dingin dua orang dengan kasih berkepastian semu
Namun tak sering meragu

Langit memecahkan kesunyian

Tidak ada asap debu yang akan terhapus hujan
Karena hujan terus ada dan akan melekat di jalan

Setiap usapan, genggaman, dan dekapan telah bertahun menggenang

Ujung jari mengusap kaca berembun demi terbentuk nama yang dirindukan

yang hanya tersisa sekarang...
Melalui hujan, langit memberikan kesempatan untuk mengenang

Rabu, 01 Juni 2016

Aku Mati

petir itu datang lagi...
di saat aku masih asyik mencoba bermain hujan,
dengan basah kuyup aku berlari kecil menghindari kejamnya petir menyambar.

aku terjatuh
dan mencoba bangun kembali meski petir demikian kejamnya melumpuhkanku...

aku menangis
tetapi tak ada yang tahu
kareta air mataku telah bercampur dengan air hujan

aku tertawa menengadah menantang langit sehingga mulutku menampung buliran air hujan yang manis

setelah itu aku mati...

Rabu, 25 Mei 2016

Jika

jika pada kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu
sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh,
ingatlah... telah kurelakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat kusanggah.

jika pada kemudian hari kau lupa
bacalah kembali kisah ini yang tergores rapi
dengan bingkai doa

terima kasi sudah bersedia mengenalku 
di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu...

Minggu, 16 November 2014

kau yang amnesia

Kamu tahu, sayang?
Betapa setiap tengah malamku tiada pernah  tak sepi karnamu
Kamu yang selalu punya kesempatan membuatku sendiri
Kamu yang terlalu asik bermain dalam duniamu sendiri
Terlalu menikmati
Hingga lupa aku di sini menunggu berlarut malam
Meninggalkan tidurku
Demi janji menantimu yang ucapmu kan berikan kabar
Meski sudah lebih setahun penantianku
Dan kamu selalu lupa membawa berita
Memberitahuku keberadaanmu
Menghilangkan kecemasan dan keraguan dalam dadaku

Dan meski semakin jelas amnesiamu
Aku masih menanti janjimu
Untuk datang dan kembali
Untuk tetap pada hati ini
Untuk ingat kau masih miliki aku
Untuk ingat kau punya janji padaku

Untuk ingat, untuk tidak lagi membawa sepi padaku